Showing posts with label Layla Majnun. Show all posts
Showing posts with label Layla Majnun. Show all posts

Friday, November 16, 2012

Puisi pada Novel Layla Majnun


Puisi 1 :

Berlalu masa,saat orang orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan
Mengabarkan rahasia jiwaku pada layla..?
Wahai layla, cinta telah membuatku lemah tak berdaya
seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta
cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
begitulah cinta yang engkau bawa padaku
dan kini hatiku telah hancur binasa
hinggga orang-orang memanggilku si dungu yang
suka merintih dan menangis
mereka mengatakan aku telah tersesat
duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan
diterpa panas mentari
bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak
bias memejamkan mata
remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta…..?

Layla Majnun

Alkisah, Kepala suku Bani Umar di Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal, bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Tuesday, October 09, 2012

Gurindam Layla Majnun


Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian
Disandingkan di dalam rahim gelap kematian
Sejati dalam cinta, setia dalam penantian
Satu hati, satu jiwa, di dalam surga keabadian
*
Terkulai di puncak rindu
Tenggelam dalam sendu
Kasih mu tak siapa
Bisa tanggalkan
Biar luka parah
Biar jiwa lara