Friday, September 09, 2011

Tembang Macapat (filosofi mendalam kehidupam)

Macapat merupakan  tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu. Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya di masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan. Kalau dibandingkan dengan kakawin, aturan-aturan dalam macapat berbeda dan lebih mudah diterapkan menggunakan bahasa Jawa karena berbeda dengan kakawin yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, dalam macapat perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.

Monday, September 05, 2011

SURAT UNTUK IBU ~ by: Thufail Al Ghifari

Sudahkah kau mau mengerti, [ikhlasnya di hati],
tentang Allah dan KebenaranNya sentuhi ruang,
Ku tak pernah bermaksud menyakitimu,
Tapi ini lah jalan hidupku yang kupilih tanpa paksaan,
Nurani yang memanggil jiwaku…

Dimana aku bersandung tentang dukamu,
Inilah laguku untukmu ibu,
Sekedar pengharapanku agar kau tahu,
Setulus kewajibanku sebagai seorang anak,
Membingkai kenangan kita,
Butiran-butiran kenangan perjalanan waktu,
Waktu yang selalu kuingat dalam sentuhan wejanganmu,

Mari Kita Belajar Mencintai

Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita.

Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.