Jumat, Juli 13, 2012

Kado Muhammad (Emha Ainun Nadjib & Kiai Kanjeng) - 1999


Tombo Ati
Kepada Engkau yang menyimpan kesengasaraan dalam kebisuan
kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan karena disingkirkan diusir ditinggalkan
atau sangat-sangat susah untuk ketemu dengan namanya keadilan
aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudara ku
untuk mengajakmu istirahat sejenak
mengendapkan hati bernyanyi mengendapkan hati dan bernyanyi

Saudara-saudara ku sesama orang kecil di pinggir jalan
sedulur-sedulur ku di dusun-dusun di kampung-kampung perkotaaan
karib-karib ku di gang-gang kotor di gubug-gubug tepi sungai yang darurat
atau mungkin saudara-saudara ku di rumah-rumah besar di kantor-kantor mewah namun memendam semacam  keperihan diam-diam aku ajak engkau semua sahabat-sahabat ku saudara-saudara ku untuk menarik nafas sejenak
duduk bersandar atau membaringkan badan, aku ajak engkau menjernihkan pikiran
untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi
atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.
aAyolah saudara-saudara rileks

Tombo ati iku ono limang perkoro
Kaping pisan moco Qur’an sakmaknane
Kaping pindo Sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sakwijine sopo biso ngelakoni
Insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi


*(terjemahan Indonesia)

Ada lima obat penentram jiwa
Cinta Qur'an dengan menyelami maknanya
Sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam
Kepada orang sholeh dirimu senantiasa dekatkan
Adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan
Dan atas keasyikan zhikir jangan pernah bosan
Salah satu saja engkau khusyu' melakukannya
Insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa

Kado Muhammad
Muhammadku sayiyidku
Engaku selalu dan terus menerus lahir
Dalam jiwaku

Muhammad pengasuhku
yang mengajarkan hidup yang halal dan toyib
terimalah nyanyian syukur dan hutang budiku


Asshalatu wassalamu 'alaik, ya Rasulallah
Asshalatu wassalamu 'alaik, ya Habiballah


Terima kasih, Terima kasih banget ya Muhammad
Guru kami semua
Karena telah engkau perkenalkan kami kepada Allah 
penghuni utama kalbu kami
kepada keabadian
yakni negeri kami yang akan datang
kepada malaikat
yang paling sejati dari segala sahabat
serta kepada akhirat
yang selalu terasa sangat-sangat dekat

Muhammad kekasih kami
terima kasih karena engkau selalu mensyukuri
kegembiraan kami
terima kasih
bahwa Engkau senantiasa pulang
menangisi derita kami

Ya Nabi salaamun 'alaika, Ya Rasul salaamun 'alaika. 
Ya habib salaamun'alaika, Shalawatullohi alaika.

ya Rasul
kupanggul cintamu
berkeliling semesta
kutaburkan di hutan
di sungai
di kota-kota

Ya Rasul
Kudendangkan Qur’an
amanahMu itu kesegala penjuru
aku mengendari angin
aku bergerak melalui cahaya
aku mengaliri gelombang
bagi-bagikan makanan keabadian
kutuangkan bergelas-gelas minuman kesejatian
kutaburkan cahaya
ke lubuk-lubuk tersembunyi
hati manusia


Sholatullah, Salamulloh , 'Alaa tohaa rosulillah. Sholatullah, Salamulloh, 'Alaayaasin habibillah
Tawassalna bibismillah wabil hadi Rosulillah. Wakuli muja hidilillah, Biahlilbadri ya Alloh


Kemana Anak-Anak Itu
Kemana anak-anak kita itu, kemana...
Anak-anak yang dilahirkan oleh seluruh bangsa ini
dengan keringat, dengan luka, darah dan kematian
Anak-anak yang dilahirkan oleh sejarah
dengan air mata tiga setengah abad

Kemana anak-anak itu
Siapa yang berani-berani menyembunyikan mereka
Siapa yang menculik mereka
Siapa yang meracuni dan membuang mereka

Anak-anak yang bernama kemerdekaan
yang bernama hak makhluk dan harkat kemanusiaan
yang bernama cinta kasih sesama
yang bernama adilnya kesejahteraan
yang bernama keterbukaan dan kelapangan, kemana...

aku melihat
Anak-anak itu tunggang langgang
Anak-anak itu diserbu oleh rasa takut yang mencekam
aku melihat
Anak-anak itu bertiarap ke bawah semak - semak zaman
Anak-anak itu ngumpet dibalik kegelapan

Kematian bukanlah tragedi
kecuali jika kita curi dari Tuhan
hak untuk menentukannya
Kematian tidak untuk ditangisi
tetapi apa yang menyebabkan kematian itulah yang harus diteliti
Nyawa badan
Nyawa rohani
Nyawa kesadaran
Nyawa pikiran
Nyawa hak untuk tenteram
Nyawa kewajiban untuk berbagi kesejahteraan
Nyawa amanat untuk merawat keadilan
Nyawa.. nyawa.. nyawa... nyawa itu
Dihembuskan oleh Tuhan
dielus - elus dan disayang-sayang
Bahkan nyawa setiap ekor coro
Bahkan nyawa cacing yang menggeliat-geliat
di jaga oleh Tuhan dalam tata kosmos dalam keseimbangan-Nya
Tuhan sangat bersungguh-sungguh dalam mengurusi
setiap tetes embun yang Ia tampung di sehelai daun
Tuhan menyayangi dengan sepenuh hati
setiap titik debu yang menempati persemayaman-Nya di tengah ruang

Tapi kita iseng sesama manusia
Kita tidak serius terhadap nilai-nilai
Bahkan terhadap Tuhan pun kita bersikap setengah hati 



Masya Allah apa sih yang nancap di ubun-ubun kesadaran kita ini
di akal kepala kita ini
didada kita ini
sehingga sedemikian rajin kit atanam dendam dan kekerasan
bukannya kelembutan atau kasih-sayang



Jalan Sunyi
Akhirnya…
Kutempuh jalan yang sunyi
Mendendangkan lagu bisu
Sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata-kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku
Biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu
Kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku
Biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku

Akhirnya…
Kutempuh jalan yang sunyi
Mendendangkan lagu bisu
Sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata – kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu
Mungkin engkau butuh kematianku untuk menegakkan hidupmu
Ambillah!! Ambillah!!
Akan kumintakan izin kepada Allah yang memilikinya
Sebab.. toh.. bukan diriku ini yang diinginkan dan dirindukan

Akhirnya…
Kutempuh jalan yang sunyi
Mendendangkan lagu bisu
Sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata – kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya



Rayap
Lho gimana sih kok jadinya kayak begini
Berantakan, serabutan, ruwet, buntu, absurd
Susah dirumuskan, apalagi dibereskan
Aduh rek-rek, ini salah awalnya atau gimana
Atau karena badan kita ini terlalu besar
Sementara jiwa kita agak kerdil
Suka amat kita ini omong kosong
Besar kepala, ilmu kita tidak seberapa
Tapi hati kita takabur, takabur, takabur
Kita rajin sekali bersumpah di bawah kitab suci
Tapi diam-diam hati kita tahu
bahwa itu semua akan kita langgar sendiri

Jadi sekarang bangunan rumah kita megah
Tapi keropos
Tiang-tiang dan kayu-kayunya digerogoti rayap-rayap
Dan rayap-rayap itu tidak lain adalah diri kita sendiri
Temboknya bocor-bocor
Kita tambal, sambil membuat bocoran di tempat lain (heh wes embuh rek)
Ndak yang tahu bagaimana mengatasi
Soal-soal yang bikin sendiri ini?
Kayaknya kita harus menunggu
Irama pembusukan ini selesai



Besi dan Gelombang
adu, aduh, aduh. kena sampeyan sekarang
Semua jadi susah
Sampeyan sih kenceng melulu
Tegang, nabrak-nabrak
Membentur-benturkan kepala
Duh aduh, semua jadi berantakan
Sampeyan berlaku sebagai besi
Jadi gampang dipatahkan
Sampeyan batu sih, jadi gampang dipecah
Mestinya sampeyan lentur, pegas
Meskipun tetap bisa dibakar
Maka menjelmalah air
Air tak bisa dilukai
Air tak bisa ditusuk
Air menghibur api, ia menguap
Tetapi kemudian cair kembali
Tapi kalau kemudian air dibendung
Cobalah menjelma udara
Kalau udara dijaring
Maka jadilah gelombang
Dan kalau gelombang disadap
Maka jadilah ruh
Ruh ke sana ke mari menjadi cahaya
Cahaya menelusup ke mana saja
Untuk mengubah kegelapan
Sampeyan kadang-kadang sudah benar
Tapi belum baik
Dan di saat lain, sampeyan sebenarnya sudah baik
Tapi belum benar

Kalau kebenaran telah datang
sebagaimana malam digantikan oleh siang
Kalau kebenaran telah datang
maka yang bathil akan sirna akan tumbang akan hilang

Allah Allah
kalau saudara-saudaraku
Pada suatu saat bisa menentramkan jiwanya
Merendakan nafsu dunianya
Memadamkan api ambisinya
Serta merohanikan kepribadiannya
Maka engkau ya Allah memanggil mereka
Menawarkan kepada mereka
Untuk kembali kepada-Mu
Dan bergabung ke dalam
Kemesraan surga-Mu.



Engkau Menjelang
Kapan datang, Engkau menjelang
Menguakkan kerinduan
Wajah samar dalam bayangan
Mengurungku di kesunyian
Jiwaku terbaring
Luruh dan kelaparan

Dunia sudah habis bagiku
Tak ada yang melezatkanku
Ruang dan waktu, hanya penipu
Hidup mati menjebakku

Sekarang aku tahu
Engkaulah yang Sejati itu

Kekasih,
Oh Kekasih..
Bukakanlah pintu itu bagiku

Allah ku,
Oh Allah ku...
Dunia ini tak lagi memikat hatiku 



tak sudah-sudah
ketika keluh kepingin sudah
ketika sudah kepingin tambah
sesudah ditambahi kepingin lagi kepingin lagi, lagi dan lagi
engkau berlari memperbudak diri
Tuhan mengajarkan yang pas-pasan saja
tapi kita tak pernah merasa
karena kekurangan pengennya berlebihan

masa kekurangan tak berpenghabisan
kepada dunia tak pernah kenyang
itulah api yang menghanguskan
itulah nafsu lambang kebodohan
hanya kepada Tuhan kita selalu kurang
hati belingsatan kangen tak karuan
kepda cinta-Mu aku kelaparan
berapapun ongkosnya kubayar sukarela

sudah-sudah kau belum sadar 
kau terus saja kau terus saja
Stop stop wes wes tau diri, tau diri STOP

Side A

Tombo Ati [Download]
Kado Muhammmad [Download]
Kemana Anak-anak itu [Download]
Jalan Sunyi [Download]
Side B
Parados [Download]
Rayap [Download]
Besi dan Gelombang [Download]
Engkau Menjelang [Download]
Tak sudah-sudah [Download]