Jumat, November 23, 2012

Bagi Sahabatku Yang Tertindas


Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan, diberi makan pada dada penurunan nilai, yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani, engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir.

Wahai askar yang diperintah oleh hukum yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan isterinya, anak-anaknya yang masih kecil, sahabat-sahabatnya, dan memasuki gelanggang kematian demi kepentingan cita-cita, yang mereka sebut ‘keperluan’.

Senin, November 19, 2012

Mutiara Berserak Mutiara Delapan Kata


IBNU HAJAR AL-’ASQALANI
Delapan hal tak pernah terpuaskan
Dari apa pun yang pernah didapatkan
Mata, dan pandangan
Bumi, dan air hujan
Perempuan, dan pejantan
Ilmuwan, dan ilmu pengetahuan
Perninta-minta, dan hasil pintaan
Orang serakah, dan tumpukan kekayaan
Lautan, dan air sungai pegunungan
Dan api, dan keringnya kekayuan

SAPTA WARSITA PANCA PANCATANING MULYA


Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya merupakan Filsafat Tradisional Budaya Jawa, yang bilamana diartikan merupakan tujuh paham ajaran untuk mencapai kemuliaan dan kesejahteraan.
Menurut sebagian dari faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya ( tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/ akhirat ), yang meliputi:
  1. Panca Sila
  2. Panca Karya
  3. Panca Guna
  4. Panca Dharma
  5. Panca Jaya
  6. Panca Daya
  7. Panca Pamanunggal

Jumat, November 16, 2012

Anak


Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Do'a Pesakitan


Gusti,
seperti kapan sajak kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa

Puisi pada Novel Layla Majnun


Puisi 1 :

Berlalu masa,saat orang orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan
Mengabarkan rahasia jiwaku pada layla..?
Wahai layla, cinta telah membuatku lemah tak berdaya
seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta
cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
begitulah cinta yang engkau bawa padaku
dan kini hatiku telah hancur binasa
hinggga orang-orang memanggilku si dungu yang
suka merintih dan menangis
mereka mengatakan aku telah tersesat
duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan
diterpa panas mentari
bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak
bias memejamkan mata
remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta…..?

Layla Majnun

Alkisah, Kepala suku Bani Umar di Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal, bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Selasa, November 06, 2012

Kisah Masjidil Haram



Masjidil haram yang luas
di manakah tempatnya
di hatiku sempit
sementara di pelataranmu melepak
aku mabuk dalam kasih berka’bah

maka aku sembunyikan harapanku
pada lawang hajarul aswad
tapi menaramu yang jangkung
menghempaskan semua pintaku
terinjak oleh kaki-kaki penziarah
sebelum tersangkut di multazam
dengan mulut hitam terkunci
di balik kiswah

Senin, November 05, 2012

Surat Kepada Kanjeng Nabi


Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah.

Akan tetapi tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah. Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain.

Apabila Cinta Memanggilmu


“…Apabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”

“…Kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang”

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…”