Sabtu, April 21, 2012

Syair Lautan Jilbab


Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!

Kamis, April 19, 2012

-۞ sebentar lagi senja ۞-


diantara siang dan malam terciptalah ia
berwajah merah ...
tersipu bersama matahari yang nyaris merebah
sebentar lagi ...
jangan beranjak, tetaplah disini
duduk sebaris rindu teruntai
hamparan biru tergulung, tersepuh keemasan perlahan 
kan kau rasakan, lebih lembut angin terhempaskan
harmoni dedaun kering merayap di pelataran
mengisi relung, sungguh meredam kegalauan 

Minggu, April 15, 2012

Kecil tapi Nyata | Filosofi Embun Pagi


Jangan tertarik kepada seseorang karena keelokannya, sebab keelokan seseorang dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.. 

Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.. 

Doa dan Air Mata

Perhatikan dengan hati paling bening. Betapa kita jarang menyatakan kerinduan cinta kepada Sang Khaliq dengan rintihan dan air mata. Hari-hari dipenuhi dengan kesenangan dan hura-hura. Hidup seakan tak menemukan wajah sejatinya karena didera tawa yang menutup bashirah (mata batinnya) untuk menatap wajah Ilahi. Padahal, sungguh pada setiap desah napas adalah untaian langkah perjalanan menuju hari akhir.

Jumat, April 13, 2012

Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i


Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,

Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.

Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.

Serat Wulangreh (Sunan Bagus~Paku Buwana IV)

Serat Wulangreh ini merupakan salah satu karya Paku Buwana IV - Sri Susuhunan Pakubuwana IV (lahir di Surakarta, 2 September 1768 – meninggal di Surakarta, 2 Oktober 1820 pada umur 52 tahun) adalah raja ketiga Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1788 – 1820. Ia dijuluki sebagai Sunan Bagus, karena naik takhta dalam usia muda dan berwajah tampan. Beliau termasuk salah satu Filsafat Indonesia yang dalam perkembangannya termasuk dalam Mazhab Islam

Berikut, Serat Wulangreh, Yasa Dalem KGPAA. Mangkunegara IV ing Puro Mangkunegoro Soerakarta

1).
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Sabtu, April 07, 2012

Ketika Engkau Bersembahyang


Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan 
Partikel udara dan ruang hampa bergetar 
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar 

Bacaan Al-Fatihah dan surah 
Membuat kegelapan terbuka matanya 
Setiap doa dan pernyataan pasrah 
Membentangkan jembatan cahaya 
Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi 
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri 
Kemudian mim sujudmu menangis

Minggu, April 01, 2012

Puisi - Puisi Langit ~ Taufik Ismail


Menengadah Keatas, Merenungi Ozon Yang Tak Tampak
Langit masih biru di atas halaman dan kampungku
Awan dengan beberapa juta jemarinya,
saling berpegangan bergugus-gugusan
Mereka bergerak perlahan bagaikan enggan
Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan
Aku tidak mendengar lagi suara unggas dan siamang
Seperti di desaku Baruh, di masa kanakku
Kini yang beringsut adalah gemuruh kendaraan
Menderu di jalanan kota besar
Menderu di jalanan kota sedang
Menderu di jalanan kota kecil

Kembalikan Indonesia PadaKu ~ Taufik Ismail


Doa
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia ~ Taufik Ismail


Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini

Sajak Ladang Jagung (Buku Ketiga) ~ Taufik Ismail


Messina-Gibraltar

Rindu pun karena ujung dua benua Mengeras di julang perbatuan karang

Dendam pun karena biru teluk Lisboa Di dada mengenang serasa berlinang.

1958 
____________________

Taman Di Tengah Pulau Karang

Di tengah Manhattan menjelang musim gugur Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu Dan pelahan melepas hijau daunan

Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak Seorang lelaki tua duduk menyebar Remah roti. Sementera itu bekelepak Burung-burung merpati

Sajak Ladang Jagung (Buku Kedua) ~ Taufik Ismail


Gerimis Putih

Malam Oktober yang panjang, dan turun pelahan Merisik dedahanan telanjang serta deru tertahan Dada bumilah yang putih dan terlembut

Di pucuk-pucuk ranting keristal sama berpagut

Malam Oktober yang pucat, pergi pelahan Pagi basah mengambang biru pipi danau Bumi yang telentang malas, pesolek berpupur salju

Lidah logam berdentangan jauh lonceng gereja

Dan lengkung langit mengucurkan gerimis putih Perbukitan tepekur, di lerengnya deretan pohon pina Tiupan angin tak lagi tajam tapi lembut menyura Seperti Emilie tak akan pergi. Seperti dada tak akan pedih Lengkung langit yang mengucurkan gerimis putih.

977 East Circle Drive, 1956 
______________________

Sajak Ladang Jagung (Buku Pertama) ~ Taufik Ismail


Januari, 1949

Butiran logam membunuh saudaraku Dirabanya pinggangnya Ketika dia rubuh

Sejemput dendam meluluh hatiku Di mana kuburnya Semakin jauh

Luka-lukamu Luka bumi kita Luka langit yang rapuh

Rumpun-rumpun bambu Dan lereng akasia Tempatmu berteduh

Matanya trembesi Ngembara di padang lalang Direnggutkan ke bumi Dengan tujuh letusan.

1956 
_____________

Turun Malam

Sebuah lembah di depan, sungai menggeliat di perutnya Di tepi hutan pinus sejenak kita istirah Ialah biru yang sepotong, awan menggumpal berkejaran Gunung benteng terakhir mendukung senja

Perkenalkan Saya Hewan ~ Taufik Ismail


Orang Hutan
“Perkenalkan anak-anak, saya hewan!
Nama saya Orang Hutan
Hobi saya di pohon berayun-ayunan
Alamat saya hutan Kalimantan.”

Anak-anak sekelas jadi heran dan gelak-gelakAda orang hutan lepas dari Kebun Binatang?Tapi dia nampaknya baik dan tidak galakBentuknya memang seperti orang
Pak guru menerangkan di depan kelas
Pelajaran ilmu hewan supaya jelas:
“Memang di kalangan para hewan biasa
Orang Hutan paling mirip manusia”

“Tangannya ini panjang sekali, dua kali tinggi badan
Sering dipakai berayun dari dahan ke dahan pepohonan
Kakinya pendek, tapi jari kakinya pandai menggenggam
Sangat berguna di hutan siang dan malam”

Puisi - Puisi Awal (1953 - 1960) ~ Taufik Ismail


Tentang Taufiq Ismail
Taufiq Ismail, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan
Semasa kuliah aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962). Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan,

Kegelapan dan Cahaya


    Cahaya menjadikan warna-warna nyata:

    malam membuat merah, hijau dan kecoklatan sirna dari mata.


    Cahaya, oleh kegelapan, diperkenalkan padamu.
    Segala yang tak terlihat, oleh lawannya, ditampakkan untukmu.

    Allah, ahad tanpa lawan, maka
    Bagi-Nya segala sesuatu terlihat,
    namun Dia tak akan pernah dilihat.


    Dari gelapnya belantara
    tempat singa terlihat mata
    jadilah jiwa tak terlihat
    yang melompat ke dalam cahaya.

Dunia Serba Tuhan atawa Tuhan Semakin Banyak

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di Jepang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan Pakta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar