Minggu, Desember 25, 2011

Lewat Jendela

Sebuah jendela meraihkan malam bagiku Seperti beribu malam yang lain. Ia berkiut Pada engsel waktu Ia membawa tempias. Debu Dan cahaya bulan persegi Yang jatuh miring ke atas mejatulis

Dua daun paru-paru yang menapasi kamar ini Setiap bayangan menyelinap, rusuh diburu Berkiut pada engsel waktu Di seberang awan tersangkut di pucuk-pucuk cemara Memberi siang. Matahari. Langit Di waktu jarum berpacu dengan angin

Bisik renyai sore gerimis, turun tertegun Kulekapkan dahiku ke kaca. Dan kuguratkan Namamu di atasnya perlahan Dengan jariku yang gemetaran Pada kaca gerimis berlinangan.

1960, Taufiq Ismail - Puisi-puisi awal (1953-1960)

Bersedia Gagal

Pelajaran berharga itu datang dari setiap sudut kehidupan, dari pergaulan, dari setiap hal yang kita temui dan amati, dari buku yang kita baca, dari komunitas tempat kita berkumpul, dari lingkungan pekerjaan dan terutama dari keluarga kita sendiri.

Sebagian besar dari kita akan mengalami kegagalan usaha dalam mewujudkan cita-cita. Banyak diantara kita gagal meraih beberapa tujuan atau memenuhi beberapa mimpi yang kita miliki saat ini, tetapi sangat penting diketahui adalah kegagalan adalah bagian dari pembelajaran. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Ketakutan akan kegagalan dapat membuat kalian tidak berdaya jika kalian tidak berani untuk tampil memalukan atau janggal atau bahkan kadang – kadang bodoh, kalian mungkin akan selalu aman tetapi tidak akan berkembang.

Mutiara Kata - Aa Gym (Abdullah Gymnastiar)

Suatu kaum atau seseorang yang hidupnya penuh kebencian dan permusuhan tak akan pernah tenang, terhormat dan berjaya selain hina dan menderita.

Jika kita memelihara kebencian dan dendam, maka seluruh waktu dan pikiran yang kita miliki akan habis dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang produktif.

Masalah paling besar bangsa ini bukanlah karena kurangnya tanah lapang, namun karena kurangnya hati-hati yang lapang
 
Kekurangan orang lain adalah ladang pahala bagi kita untuk memaafkannya, mendoakannya, memperbaikinya, dan menjaga aibnya.
 
Ketika kita merasa berjasa sedang orang lain merasa terhinakan, itu pertanda kita tengah gagal. Sukses itu juga diukur lewat kebersamaan.
 
Bertekadlah bahwa hidup yang sekali-kalinya ini tidak akan pernah merampas hak kebahagiaan dan ketenangan orang lain.

Jumat, Desember 16, 2011

SEPOTONG SENJA

Sepotong senja kemerahan yang kauberikan padaku
Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu
Masih belum bisa kuterjemahkan sebagai puisi
Senyummu terlalu jenaka untuk seorang Rabi’ah
Dan punggungmu belum cukup bungkuk untuk tertatih
Menyusuri lorong-lorong Basrah dengan tongkat tua
Bagiku, kesepian belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi
Sebab kita belum cukup terbakar dalam api

Berkali-kali kausebut aku Hamlet yang gila
Hanya karena keraguanku menafsirkan sorot matamu
Karena begitu lama kubutuhkan waktu untuk terus berlari
Sebelum kulumuri kanvas-kanvasku dengan airmata
Mungkin aku lebih mirip Sisifus yang terkutuk
Atau Narsisus yang mabuk? Sepotong senja yang kauberikan
Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu
Masih belum bisa kuungkapkan sebagai lukisan

kenang ... kenanglah

kau menghilang saat jalan berdebu
sepanjang peristiwa ku tak mampu menemu
itulah alasan mengapa kucintai hujan
yang kan menjelaskan tanah bebasahan

rintik sungguh bermakna penuh sentuhnya
memendar perlahan kilauan cerita lama
menyampaikannya melintas tepian senja
mewarnai langit memerah dulu enggan bicara

Senin, Desember 12, 2011

JANGAN PENJARAKAN JIWAMU!

Penjara yang hakiki bukanlah jeruji besi yang membatasi gerak langkah. Penjara yang hakiki adalah kungkungan nafsu yang membuat nurani menjadi membeku. Betapa banyak orang yang gerak langkahnya tidak terbatas oleh ruang yang sempit tetapi batinnya terpenjara oleh nafsu yang telah ia jadikan sebagai tuhan. 
Ruang yang sempit  dapat membatasi gerak langkah, tapi tak bisa mengurung jiwa dan pemikiran. (Gani Yordani--editor)

Ketika nafsu amarah (nafsu yang mengajak pada keburukan) selalu memenangkan pertempuran dalam melawan nafsu muthmainnah (nafsu yangmengajak pada kebaikan); ketika akal tak lagi dimanfaatkan untuk mengontrol nafsu; ketika nafsu lawwamah (nafsu yang mengingatkan)

Selasa, Desember 06, 2011

Kekuatan Sebuah Janji

Ketika kita berjanji untuk lebih menguasai diri... itu baik,
Ketika kita menepati janji itu saat menghadapi berbagai ujian dan pencobaan...
itu jauh lebih baik.

Ketika kita berjanji untuk lebih lembut lagi dalam berkata-kata... itu baik,
Ketika kita menepati janji itu saat harus menjawab kata-kata makian yang pedas...
itu jauh lebih baik.

Kamis, Desember 01, 2011

Serat Sabdo Jati (Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito)

Hawya pegat ngudiya Ronging budyayuMargane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.


Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.

ibu (selalu ada harapan)

Ibu ...
perlahan aku 
... belajar memanggilmu
... menghafal wajahmu
senyum kecil, gelak mungil serasa tak lengkap tanpamu

Ibu ...
hanya kau yang mengerti, 
bagaimana cahaya mataku bisa kembali,
bagaimana kecemasan akan sirna, 
bagaimana harapan selalu ada,
meskipun rasa takut itu pun hinggap, ku akan selalu tersenyum dan menghapus air mata