Minggu, April 01, 2012

Puisi - Puisi Awal (1953 - 1960) ~ Taufik Ismail


Tentang Taufiq Ismail
Taufiq Ismail, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan
Semasa kuliah aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962). Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan,
salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia(Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)


Penghargaan
Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).
___________________________________________________

~ Puisi - Puisi Awal (1953 - 1960) ~
___________________________________________________


Doa dalam Lagu
Ibuku karena engkau merahimiku Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu Beri mereka kesejukan dalam dan biru.

1953 

_________

Dadang, Pemetik Kecapi Tua

Kepada Bahrum Rangkuti

Dilingkarkannya angin pegunungan pada denting-denting selalu di suara sendu berlagu margasatwa

Bila Dadang tiba tua, dan ada bersua senyap angin bening lembah

Kumandanglah kumandang timang desir lena angin subuh bambu-bambu berlagu selalu rindu

Sepagi embun Dadang tua tiba, menyingkap cadar hari berlagu lembah biru dan burung pagi mengitari dada bumi.

Siasat, no 372, thn VIII, 25 Juli 1954
_________

Rimba Jati (Alas Roban)

Mendenyut kemarau ke jantung rimba Hutan Roban jati mengujur bukit Kehidupan coklat terbentang di sela musim

Seekor elang menyelinap hitam dahan-dahan botak telanjang Lengking menikam ruang terkabar daun-daun kesat membumi Tanah mersik menua, jati dewasa di dada

Mendesing musim ranggas kuning-kuning bercenungan Bukit penyimak peristiwa terbungkuk tua Mengujurkan kakinya ke laut kelabu

Gairah terbaring pada satu hanya musim Depan rimba jati, mendenting pada satu titik api Gairah terik musim membakar jantung rimba jati

Menerjang asin ombak ke kaki bukit terbungkuk tua Bumi mersik lekah di puncak demam makin melela Demam rimba jati dituang ke satu titik api musim di muka.

Siasat, no 416, thn. IX, 29 Mei 1955
_________

Kemarau di Desa Bangkirai

Seekor anjing melolong larut di lereng bukit bertubir Bulan merah di sungai bulat mengapung. Hangus dan pijar Kurus lembah kuning patah daun tebu didukung punggung gunung Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh

Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh Kemarin tengah hari udara meleleh di Padang Panjang Kerbau si Sati, kambing coklat mengah-ngah Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus

Di ladang padi sekeping bumi kering makin retak-meretak Di jantung penghuni rindu dan dahaga tetak-menetak

Kami terbaring di pondok pelupuh Malam Ramadan ngilunya lagi Ketika teriakan siamang bertalu membelahi lembah Sati melompat bangkit menerjang daun jendela: Hitam kental mencat daerah sangsai

Lereng huma padi mendenting kehausan Musim manis pabila tiba?

hari berhujan sayang subuh berasap tungku tengguli

Tapi malam kemarau belah teriakan siamang bertalu-talu*)
Menopan ke jantung penghuni mengentali deru
Musim hujan datang! Musim hujan datang!

Hujan oooi, hujaaaaan!
Hujan oooi, hujaaa – aaa aa – aaan!

Kisah, no 7, thn. III, Juli 1955

*) Penduduk sekitar Baruh di kaki gunung Singgalang bertahayul, bahwa apabila di larut malam siamang berteriak-teriak, maka keesokannya tentu akan terjadi apa-apa yang luar biasa.
_________

Pelancing Kemalaman

Kelenjar yang didarahi lecut angin lorong berisik dalam jantung meramu angan sendiri aspal rengkah musim kemarau di sore lembab dan gerimis pintu-pintu yang bertutupan ada janji pelancong dengan dunia

Menginap malam di tengah perjalanan sebuah kota yang nyenyak terdingin larut di kaki lima raun peronda kantuknya dilempar ke pangku perempuan malam truk barang lewat raung satu-satu bermata nyalang sepi trotoar mengendapi jantung pelancong yang tambah sepi di los pasar rasanya sejuk mengecil aku tidur mau di sana ah ucap pelancong kecil rasa sejuk mengecil na ada hangat tikar ikan peda semalam ini janji dia dengan bangsal pasar dunianya kemudian dentang-dentang pekayuan di gudang pagi penjaja sayur dan pedati luar kota yang memekak dan pelancong kecil yang menjelajah kutu di celana kumalnya.

Kisah, no 7, thn III, Juli 1955
_________

Membajak Kembali

Orang-orang telah membajaki sawah-sawah kembali karena lewat sudah musim kemarau menguning bumi lekang kering menafaskan lagi air membening

Di punggung bukit-bukit awan hujan bergantung biru pepohonan di desa mulai dipukul angin beruap lembab tangkai-tangkai besi bajak dan penyawah-penyawah berselubung harap di jantung, kerbau-kerbau di-hee, yaaaaah! hee yaaaah! anak-anak perempuannya mengantar sarapan cuma nasi jagung dan ketela kering, ibu-ibu bersingsing kain hati sesak bertopi caping setiap dada berlingkar cemas harap mata dikandungi sesuatu menyesak dan mulut meneriak: hee yaaah! hee yaaaaah yaa aaaah!

Lumpur terbalik baring berbongkah-bongkah mata dibayangi awan hujan, meniti di pematang sawah lingkar-lingkar di leher bukit harapan bumi bernafaskan air panen padi kuning selepas kemarau melekah kering dan teriak kini merencah teriak kian meresah: hee yaaaah! hee yaaaaah!
_________


Riwayat

sebuah kisah yang dibangkitkan dari antara keluarga-keluarga para penenun dan pembatik di kota P.

    Hidup yang bergalau gemertak deru mesin tenun pada siur jaringan benang dan ragi kain panjang pada tawarnya hati bila anak jadi berbesaran sebuah keluarga sendiri pula dunianya

    ibunya, ibu berwajah hangus diang tungku terbungkuk begini renta cuma bertutup dada nafkah bertuangkan lilin mendidih dan jejak canting tembaga

    bapanya, bapa penenun tua jika pagi-pagi sekali (penabur gigih dari persemaian menyemi di hati) menganyamkan kehidupannya bila peluit pabrik berbunyi

    tidak ingin bapa melantangi gemuruh pedal mesin tenun karena berteguh janji jadi penyemai sabar setia sejemput benih, tergenggam di jarinya dan jari ibu tua disuburi lilin mendidih, kesibukan kukuh papan tenun berlaga

    Bila mendewasa kanak: bujang dan gadis remaja dibesarkan di gubuk tepi kali basuhan kain mori sudut sebuah kota iklimnya kewangian desa ramah bumi persemaian, pinta doa bersahaja

    bila malam turun di satu akhir tahun diintip kerlip kandil di pelupuh gubuk mungil bapa bersila padat, irup kretek berdecit-decit bujang meningkah, meregang kejang tadi siang ibu bersugi merah sirih, lamban perlahan melepas pandang sayang pada gadis mengikal kembang

    bila tiba-tiba saja bapa berkata
    (ibu menggeser merah sugi, gadis memilin tepi kain)
    -kelamarin pagi keluarga Diman,
    datang meminang kau Idja

    Idja tersirap Idja dara berikal kembang tunduknya hening berpintal damba dambanya damba abang Diman dambakan tanah ramah menggembur bumi persemaian di lepas riba tua berjalin sari kesayangan

    Hidup, yang bergalau gemertak deru mesin tenun pada siur jaringan benang dan ragi kain panjang penabur setia, di subur dada bumi yang ramah dan menerima.

Kisah, no 9, thn III, September 1955
_________

Hanggar 17

Di malam seng seng gudang menyanyikan cahaya bulan sebulatnya hati rindu yang terkapar penumpang bersesak di dek dikemahi tenda kasar pelampung dibasuh alun mengkaca bintang dan bulan

Kamar kapitan disiur temali tiang haluan orang-orang ramai berkemas lupa mabuk tanjung cina di palka bunda cenung memangku ananda tidur diriba mengimpi disusul bapa kota jakarta

Buritan berterali besi kesat diuapi garam buyung dan gadis berceloteh gelak asing mengempas anak-anak heboh berbenah cucu asing pula nakalnya di luar langit dan laut, kapal terjangkar disapu warna kelabu

Kapal ini dari logam tua angguknya dalam satu-satu kelabu warna tanjung, hitam kapal beracungan tiang-tiang lautnya bernafas berat dan alim, laut teluk jakarta begini cinta kelabu warna kuala diperaki bulan dan kerdip bintang mengkilat kelabu tanjung periuk sosok hitam kapal terjangkar Di geladak semakin ribut pasasir semakin cerewet dentang-dentang kamar mandi, centeng-perenang barang pamili maki dan carut, bahak dan celoteh kakek bertudung handuk, dara bergaun malam mendenyut di kelenjar tubuh pukau merapat ke pelabuhan pukau daratan mengental ke dentang-dentang di jantung

Mesin uap menderu berat air bersibak ke hanggar tujuh belas masing penumpang dengan jantungnya sendiri, naik merapat langit tanjung periuk panas oplet deru mendebu mengantar pasasir ke riuh laga di kota jakarta.

Kisah, no 12, thn III, Desember 1955
_________

Lagu Roban

Bermerahanlah bunga semak liar pesisir rimba jati Pantai sepanjang liku berlambai kelopak randu
-dan menjarak kau,
-musim kemarau bertangan pijar

Limas bukit biru remaja, jati-jati berputik Laut genit mengempas pucuk buih berbunga
-dan bermukimlah kau,
-musim hujan berdada lembut.

Kisah, no 12, thn III, Desember 1955.
_________

Mimpi

Mimpi yang bernas melepas kejang remaja pandang ranum antara kita mengenggani hadir orang ke-3

Langit panas biru muda lantang nafas darah belia mengembang bunga di pekarangan di saban tumpak dan debarnya dada

Kerja sehari-hari membilang panas nafas kemudian percakapan di langkan kediaman mimpi ranum menggeliati kejang remaja.

Kisah, no 12, thn III, Desember 1955
_________

Nostalgia Pelayaran Atlantika

Rindu pun kerna semenanjung dua benua mengeras di julang perbatuan karang

Dendam pun kerna biru teluk Lisboa di dada tertatah serasa berlinang.

1957
_________

Kelopak Musim Semi

kepada Helen Werrbach yang memanggang rotiku kering yang menisik piamaku sobek

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari Anak-anak camar bertebar atas arus melancar Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang Dan dermaganya hening lelap, berlelehan kristal kaca

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas Lewati perairan alim dengan pipinya dingin Masih ada yang berlinangan di sela pori-pori karang Kenangkan musim yang agung. Dan membelatinya angin Berjabatlah dengan teluk kami, persinggahan di tahun datang

Siasat, no 542, thn XI, 30 Oktober 1957


Pulang

Dengan bertiupnya angin sehari-hari penuh pengejekan Dan pekayuan dipukul angin dan tertunjam, cintaku datang Dengan dendangnya mencariku di bawah belahan bintang Dan senyum padaku, memenuhi duniaku Jam demi jam, seperti saja dia belum almarhum.

Dan kutunggu dia di bawah pepohonan bungkuk, menunggu Kumaukan kemeja yang dipakainya; sandal-sandalnya yang hangus Seakan dia berjalan di atas api mendesirkan darahku sebagai Tanda kedatangannya, dan kuraih Kubawa ke rumah sampan dan kukubur di perut lantai.

Kuawasi pepohonan tepi air kukira Bumi seakan telah lama menatapku, dan cintaku Pergi mendanau seakan dia tak pernah kenal Tinggallah aku bimbang apa betul dia tak kenal Terlalu remaja! Aku pergi dan tersedu di rumah sampan.
1957

Siasat, no. 546, thn XI, 27 Nopember 1957.
Catatan Penerjemah:

Patricia Hooper adalah penyair termuda di Amerika Serikat dewasa ini. Dia bersekolah di SMA kota Saginaw, Michigan dan baru berumur 15 tahun. Sajak di atas (judul asli: “Homecoming”) disiarkan di majalah kebudayaan American Scholar Edisi Musim Semi 1957, di antara sajak yang lain. Dalam sebuah antologi yang akan diterbitkan oleh penerbit New Direction, dua sajaknya akan juga dipasang bersama sajak penyair-penyair masa kini.
_________

Dua Sajak Pegungan Libanon

Sampaikan Kepada Gadis Tetangga Itu

Sampaikan kepada gadis tetangga itu Yang menitipkan hatinya padaku Katakan padanya: telah aku jual Firdausnya Dengan harga murah
Dan aku bersandar di sini. Nyanyi Pada pintu bar.

Jemari

Perempuan dengan mata hijau Yang memetiki mawar kuning Semuanya janji Di musim semi Kehilangan jemari, antara serba bunga Dan menariki ujung-ujungnya Dengan kuncup mawar.

Media, no. 7, thn IV, Februari 1958
_________

Kutahu Kau Kembali Jua AnakKu

Saudara kandungku pulang perang, tangannya merah Kedua pundak landai tiada tulang selangka Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu Aku tahu kau kembali jua anakku

Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah Ibu pun perlahan mengusapi dahinya tegar Tanganku amis ibu, tanganku berdarah Aku tahu kau kembali jua anakku

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya Aku tak membidiknya tapi tanganku bersimbah Tunduk terbungkuk matanya sangat papa Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

Kau ketuk sendiri ambang dadamu anakku Usapkan jemari sudah berdarah Simpan laras bedil yang memerah Kutahu kau kembali jua anakku.

Mimbar Indonesia, no 50, thn XII, 13 Desember 1958.
_________

N.Y.

sebelas ribu mil dan rabu di sini mahal harganya poster pucat di beton dingin anak tuan-tuan butuh hijau cemara

dinding kota menjulur dalam bukit semen dan besi kapur suara dan cahaya tak terjangkaukan merembeslah dalam pori-pori sel panjangnya bayang perigi

anak-anak tumbuh dengan 2 rabu rabu semen dan rabu cemara
_________

Admiral Padang Gandum

tim anak padang gandum rambutnya perang kusai jerami tim suka arbei ranum rengeknya menggayut gaun: mami!

matanya biru warna danau pun biru dan tim kecil mengintip dari jendela kapal demi kapal merambatlah di cakrawala dan tim kecil mau jadi nakhoda

terlalu muda anakku sayang ibu nanti tinggal sendirian teluk terlalu jauh anak takut bapa tinggal sendirian

tim jalan tunduk ke ladang, tangan di sakunya hati betapa sebal jerami pun patah-patah aha begini para lembu jadi kapalnya tim cilik adalah amiral padang gandum!

Mimbar Indonesia, no 50 thn XII, 13 Desember 1958
_________

Batasan Sajak

Sajak adalah siul melengking curam Sajak adalah gemeretak kerucut salju beku Sajak adalah daun-daun meng-es sepanjang malam Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel Sajak adalah manis kacang kapri yang mencekik mati Sajak adalah air mata dunia di atas bahu.

Siasat Baru, no. 622, thn. XIII, 13 Mei 1959
_________

Suatu Pemikiran Bermukim dalam DiriKu

Suatu pemikiran bermukim dalam diriku Aku akan mati di atas empuknya ranjang Aku akan layu sekuntum kembang Punah dikerikiti ulat durjana

Jangan beri daku ajal ini. Tuhan Jangan beri daku ajal ini

Jika aku pekayuan disambar petir Dikoyak badai, terambung dari muka bumi Jika aku karang kelabu, di celah sungai salju Diputing topan terlempar ke dada jurang Jika setiap orang merenggutkan serba kekang Dan menengadahkan kepala mereka ke pesta Kemerdekaan Dan panji-panji ungu berkebar-gebar Mengumandangkan kata agung ini ke seluruh bumi KEMERDEKAAN

Dan di tumpak terompet lengking melengking Dari Timur ke Barat Dan di tumpak orang-orang merambah rata semua yang membelintang Di sana biarkan aku gugur, pada padang ini Di sana biarkan darahku remaja mengalir dari jantungku.

Siasat Baru, no. 623, thn. XIII, 20 Mei 1959
_________

Dua Nukilan dari Odyssey

Kemudian daging pun cair, pandang membeku, jantung hening detak Dan fikiran agung membubung ke puncak kemerdekaan asri Menggelepar dengan sayap-sayap terbuka, membelah dada angkasa Menoktah tinggi dan melepas diri dari sangkar terakhir Sangkar kemerdekaannya Segalanya mengabut tipis hingga selengking teriak dahsyat Menggunturi perairan tenang dan hitam “Majulah anak-anakku, berlayarlah, karena angin Maut meniup haluan!”

II
“Engkau si dungu, mengapa kau tega kehilangan Lelaki teragung yang hidup dan bertempur memberimu bentuk? Kau tuang hati kami dengan ratap dan nafsu hewani Lalu pekaplah telinga dari semua Tapi jiwa insan terus berjuang, kau pengecut, tanpa tolongmu!” Hatinya melambung noktah tak hirau Ajal Dan di angkasa hitam membina Seribu ruang tempat berkebar seribu sayap Dan menjerit bak rajawali, berjuang mengungkai simpai takdir.

Siasat Baru, no. 629, thn. XIII, 1 Juli 1959
_________

Tiga Pepatah

Seorang pemburu membunuh unggas di hari sejuk Ketika menjagal itu, air matanya berlinang Kata seekor margasatwa: Lihat lelaki itu meratap Kata yang lain: Peduli apa air matanya, tangannya tatap.

Bersabarlah pada tetangga jahil: atau dia Tambah jahil, atau nestapa memusnahkannya

Kehormatan bermukim di bulu tengkuk kuda.

Siasat Baru, no. 637, thn XIII, 26 Agustus 1959
_________

Kengan pada Dunia Kanak-Kanak

Masih ingatkah kau, masa bocah kita
Sekali lama, di desa Zahleh karunia
Betapa di kebun anggur dua bayang bertemu
Bertukar gelak di rimbun semak rindu?

Masih ingatkah kau, bila kita bersirebutan
Memetiki gugusan anggur paling matang
Dan semua kita bayar dengan rekah senyuman
Bercita rasa manis mabuk kepayang?

Masih ingatkah kau pagi malaikat berdua
Pada pelukannya kemesraan dan kesayangan
Melambungkan kita ke kilau-kilau angkasa
Meninggi hingga kita lingkari kayangan?

Dan bagaimana sungai yang selalu kita mudiki?
Masihkah ia mengalir dengan biru tanah tepi?
Ah, begitulah cinta meramu semua
Memerciki pepohonan dengan kebugarannya.

Siasat Baru, no. 637, thn XIII, 26 Agustus 1959
_________

Laut Tengah

Laut tua, aku mabuk dengan suara Yang mengalir dari mulutmu bila Ia menganga seperti lonceng hijau dan Berklenengan sangat jauh. Kau tahu, kenangan segala musim panasku lama Bermukim di dadamu Di ranah tempat matahari mendidih pelan-pelan Serangga mengabuti udara. Juga kini Aku membatu di sini Pada kehadiranmu, laut Tapi aku punah arti Depan nafasmu berat dan dalam Kau mula-mula berkata padaku Nyeri kecil jantungku Hanya sedenyut nadimu Bahwa dalam di tubuhku Singgah bahana segara Biar dihanyutkannya semua daki Seperti kau yang mengempasi pantai Di antara ganggang dan bintang laut Penghuni perlente dalam jurangmu.

Siasat Baru, no. 638, thn XIII, 2 September 1959
_________

Fajar

Fajar, hanya padamu sendiri istirah Ajalku pengap Hanya padamu jasmaniku yang resah Menemu lelap Seperti sungai berprahara Semula menubuh siksa Tiap gelap menyelubung Sia-sia aku bertarung Di wajahmu, yang mendekat Diam-diam Seperti mempertakuti Mengintip, menyelinap Hantu tersamar Fajar beku bercadar Kengerian mengaduh, iblis lari Maut, pengawal Hitamku yang gigih Jauh pontang-panting Berkaki pencuri

Lalu aku bangkit dan merenggut Diriku dari gelombang bayang Pelan-pelan aku terlena Pulas bagai karang

Duh fajar, duh fajar damai Laut cahaya tak bernama Kau pangku setiap sungai.

Siasat Baru, no. 638, thn XIII, 2 September 1959
_________

Surat dari Lampung
tegineneng, 8 Juli 1959 (km 37, tanjungkarang)
yth. sdr. s.n. ratmana lingga 16, semarang

I
salam bahagia, rat apa kabar kau di jawa adakah sehat sejahtera alhamdulillah kami di lampung wal-afiat sekeluarga
ladang kami telah terang berbulan merambah lalang padi rawa pun habis dituai padi gadis berjumbai-jumbai penating lumbung setahun paya bencah 24 rantai kambing kacang selalu bunting-bunting sapi pun tambah besar antara rerumputan dan semak petai cina randu durian ‘kan mulai berbunga
di selatan kebun jeruk berputik rata rindang-rindang bagai perawan muda hijaunya di bumi melandai dibuai kulik elang kelepak burung podang

II
sekali-sekali singgah datuk berbaju belang bengkarung tak berbunyi menyelami laut lalang dalam pelintasan malam atau topan yang menghalau bukit dan memutar berjuta daunan babi liar yang membuat sawan dengan moncong tembilang
anak-anak menangis malam ditenggeri flu dan malaria istriku matanya makin dalam luruh dari kehidupan kota

III
tapi bila malam lembayung dan antara kapas langit bulan berdayung temaram di atas tetangkai jeruk rawa dengan wajah kaca hitam mengunjur dan menggeliat ke hulu bagai perempuan berahim subur dan angin yang mengaliri pepohonan membawa nafas Tuhan
dan kami beranak-pinak di atas tikar pandan, berdiam setelah berimam empat rakaat mendengungkan Qur’an dan salawat
doa syukur dipanjatkan doa pelindung dipagarkan doa berkat ditanamkan 

IV
rat, kapan kau mau datang berlepas lelah dari kehidupan kota yang panas dan mengering
di sini randu rambutan mulai berbunga di padang lalang kita berburu kijang dan siul burung kutilang rawa, perempuan subur itu menggeliat di ranjangnya bencah

V
dan bila langit memicingkan matanya biru hitam kita ‘kan mengunjur. Terlena dibuai istirah yang dalam

Mimbar Indonesia, no 38/39, thn. XIII, 10 Okt. 1959
_________

Salman Pengelu-elu

Salman terbungkuk pada punggung Lelaki nanar yang kehilangan diri Usia disandarkan di lingir kemah Menudungkan tangan pada mata tua

Di kantong Salman nujum bahari Begitu rindu, rindu Kitab Suci

Salman tendanya di ujung gurun Gembala biri-biri berdinding bukit karang Jangat pun kerut-merut demi tahun-tahun bertaut Menudungkan tangan di pelupuk tua Mata air yang tak kunjung biru

Menudungkan jari pada mata tua Nanap dan berlutut Dua lengan meregang Ketika Muhammad datang

Wahai dikau mata air kami! Wahai dikau anyaman zaitun! Duhai dikau zamrud suarga! Rasul! Rasul gurun terakhir!

1960
_________

Lewat Jendela

Sebuah jendela meraihkan malam bagiku Seperti beribu malam yang lain. Ia berkiut Pada engsel waktu Ia membawa tempias. Debu Dan cahaya bulan persegi Yang jatuh miring ke atas mejatulis

Dua daun paru-paru yang menapasi kamar ini Setiap bayangan menyelinap, rusuh diburu Berkiut pada engsel waktu Di seberang awan tersangkut di pucuk-pucuk cemara Memberi siang. Matahari. Langit Di waktu jarum berpacu dengan angin

Bisik renyai sore gerimis, turun tertegun Kulekapkan dahiku ke kaca. Dan kuguratkan Namamu di atasnya perlahan Dengan jariku yang gemetaran Pada kaca gerimis berlinangan.

1960
_________

Muhammad Menjelang Baytil-Maqdis

Langit yang melengkungkan dada, biru hitam Muka tengadah denyut darah tertahan
- Kutoreh dadamu al-Amin, jantung baiduri
- Kubuka langitKu bagimu, mata hujan dan salju

Di tangannya waktu meleleh Lumat gurun dan lembah. Berlalu
Gerimis cahaya melinangi bumi Lekah dada dan langit baginya. Selalu

Siasat Baru, no 669, thn XIV, 6 April 1960
_________

Sumber: http://taufiqismail.com/