Senin, Juni 11, 2012

Singiran Tanpa Waton Gus Dur (STWGD)


Ajaran Tasawuf dalam Singiran Tanpa Waton Gus Dur dan Kontribusinya dalam Pembentukan Pekerti Masyarakat, merupakan judul asli tulisan (makalah) karya Wahyu Widodo, yang saya kutip dari dari website ki-demang.com . Makalah ini mengkaji Singiran Tanpa Waton Gus Dur (STWGD) karya K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang berbentuk singir atau nadhoman. Singir merupakan “Grammar of poetry and poetry of grammar” yang disenandungkan dengan rima yang runtut dan padu serta berfungsi sebagai media dakwah. Metode yang digunakan dalam mengkaji STWGD yaitu metode hermeneutik sastra dan metode kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam STWGD terkandung nilai ajaran tasawuf yakni ikhtiar untuk memahami Islam secara komprehensif yang meliputi penahapan syariat, thariqat, makrifat, dan hakikat yang terdiri atas empat anasir
  1. kebersihan hati dan pikiran,
  2. zuhud terhadap dunia,
  3. kesabaran dan keikhlasan, dan
  4. keridhoan dalam menerima kepastiaan Allah.


Keempat anasir tersebut sebagai cikal bakal pembentukan pribadi yang berbudi pekerti yang tumbuh dari kesadaran diri (kesalehan diri). Kontribusi STWGD dalam pembentukan pekerti masyarakat berakar dari kesalehan diri yang bertransformasi dan terefleksi dalam tata nilai di lingkungan masyarakat (kesalehan sosial) yang tecermin melalui sikap sosial
  1. toleransi antarsesama,
  2. rukun terhadap sesama,
  3. larangan iri hati terhadap kekayaan tetangga, dan
  4. memuliakan sesama.


Terwujudnya kesalehan diri dan kesalehan sosial sebagai tanda pribadi yang tuntas dan paripurna (Insan Kamil).

Kata kunci: STWGD, tasawuf, kesalehan diri, kesalehan sosial.

Istilah singiran diserap dari bahasa Arab, yakni Syi’ir yang berarti lagu atau puisi. Masyarakat Jawa lebih mengenal singir daripada syi’ir. Hal ini terjadi karena kebiasan orang Jawa melafalkan huruf hijaiyah Ain dengan ngain, misalnya, kata ainun menjadi ngainun. Secara historis, sulit dilacak mulai kapan singir atau singiran ini mulai ada. Dalam serat Centhini yang diciptakan pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono V, istilah singir sudah muncul. Pada pupuh 321 (sinom) misalnya diceritakan tentang Sang Adipati Wirasaba yang bernadzar menanggap sulapan Mas Cebolang setelah putranya lahir dengan selamat. Diungkapkan bahwa pada saat itu penonton sangat banyak, termasuk para pembantu dan selir sang Adipati. Dikisahkan bahwa Mas Cebolang yang tampan wajahnya dihias dengan pakaian indah. Pada saat bermain rebana, bernyanyi, bersingir suaranya merdu, bening dan mendayu-dayu. Oleh karena itu, banyak wanita yang jatuh hati (Marsono, 2005: ix dalam Kusnadi, 2006:233). 

Singir yang membudaya dan memasyarakat dalam masyarakat Jawa digunakan sebagai media dakwah oleh wali sanga untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan sehingga ajaran Islam mudah diterima, dihayati, dan dipeluk oleh masyarakat Jawa pada kala itu. Selain Singir sebagai media dakwah, singir juga berfungsi sebagai instrumen pembelajaran di pesantren salafiyah untuk memahami pelbagai kitab untuk disingirkan atau dinadhomkan sehingga para santri lebih mudah menghafal matan (mata pelajaran). Tradisi singiran sampai sekarang masih dilestarikan oleh Jami’yah Nahdhiyah Nahdhalatul Ulama yang berbasis di pedesaan dan perkampungan melalui pesantren sebagai pelestarinya. 

Singir merupakan grammar of poetry ’gramatika dalam sajak’ yang senantiasa disenandungkan yang syarat akan keindahan, kemerduan, dan keharmonisan serta didalamya terkandung ajaran dan tatanilai. Konsep ’gramatika dalam sajak’ grammar of poetry and poetry of grammar yang dicetuskan oleh Jakobson terejawantahkan dalam arti yang sebenarnya dalam singiran meskipun tentu saja Jakobson tidak pernah mengenal singiran atau nadhoman (Kadarisman, 2010:114). Kegramatikan singiran terletak dari runtut dan padunya rima yang didendangkan dengan pola yang tetap dan merdu. Dalam khazanah nadhoman ada ilmu khusus yang membahas pola runtut padunya singir atau nadhom dikenal dengan ilmu arudh.

Singir Tanpa Waton Gus Dur (STWGD) merupakan singiran yang diciptakan dan disenandungkan oleh K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur). STWGD berhsi ajakan untuk memahami Islam secara komprehensif dari pendekatan tasawuf dengan empat penahapan (maqamat, station) yaitu syariat, thariqat, makrifat, dan hakikat. STWGD menjadi relevan untuk disuguhkan pada era kekinian karena Islam yang ditunjukkan akhir-akhir ini adalah Islam yang mementingkan aspek permukaan (syariat) saja atau lebih dikenal dengan pendekatan Islam formalis yang mengabaikan aspek kedalaman Islam. Kelompok ini seringkali menyalahkan, menyesatkan, mengkafirkan kelompok Islam lain yang tidak sealiran dengan mereka. Hal ini terjadi karena mereka hanya melihat Islam dari segi permukaan saja (syariat), sedangkan kedalaman Islam yang bersifat esoteris (thariqat, makrifat, dan hakikat) tidak mereka kaji secara mendalam. STWGD merupakan ajakan dengan santun dan lantun yang membawa energi kedamaian dan ketentraman bagi pembacanya serta ajakan untuk mengkaji Islam secara komprehensif yang didalamnya terkandung ajaran tasawuf.

Kemanunggalan tasawuf dengan piranti estetika, khususnya piranti sastra, telah membuktikan bahwa ajaran tasawuf banyak didakwahkan melalui piranti estetika sastra. Hal ini oleh Braginsky (1998: xiv) disebut dengan istilah 'tasawuf puitik', sedangkan tasawuf yang   ditulis dalam bentuk doktrin kerohanian disebut sebagai 'tasawuf kitab'. Selanjutnya, Abdul Hadi W.M. (2001:11) mengatakan bahwa tasawuf puitik merupakan fenomena universal. Ia tidak hanya fenomena lokal, tidak terbatas hanya lingkungan tradisi muslim Arab atau Parsi, tetapi juga muncul dalam tradisi masyarakat lain, seperti Turki, Urdu, Bengali, Cina, Melayu, dan Jawa. Tasawuf puitik mempengaruhi gerakan-gerakan sastra modern di luar dunia Islam, di   Timur   maupun   di Barat. Wahid (1974:29) mengatakan bahwa untuk menggambarkan dan mengategorisasi rasa ekstasi (jazabah) dalam percobaan mengenal hakikat dan kebenaran Tuhan (Mystical ectasy) diungkapkan dalam bentuk baris-baris sajak atau dalam rumus-rumus tasawuf.

STWGD merupakan corak khas dari tasawuf puitik yang berbahasa Jawa dan banyak menggunakan serapan dari bahasa Arab dan bahasa Kawi. Hal ini dipilih sebagai strategi untuk mensyiarkan ajaran tasawuf yang dikandung dengan menggunakan strategi kebudayaan (Widodo, 2011). Ajaran tasawuf dalam STWGD merupakan tasawuf praktik (isyari) bukan falsafi (hudhuri). Tokoh yang mengusung tasawuf berorientasi filosofi yaitu Ibnu Arabi, sedangkan tokoh yang mengusung tasawuf praktik atau tasawuf suni yaitu Al-Ghazali (Salam, 2004:28-29). Dalam istilah Schimmel (dalam Chasanah, 2006:44) tasawuf praktik disebut dengan mistik kepribadian (mysticism of personality) dan tasawuf filosofi disebut dengan mistik ketakterhinggaan (mysticism of infinity). Tasawuf praktik lebih menitikberatkan pada pengolahan kepribadian individu melalui serangkaian ajaran dengan praktik tirakat, wirid, dzikir, dan pelbagai macam tirakat lainya.

Ajaran adalah praktik-praktik dan ilmu-ilmu tertentu yang diajarkan dalam sebuah tarekat (Burhani, 2002:37). Ihwal ini tecermin dalam STWGD yang banyak penekanan pada praktik-praktik laku sufistik, misalnya pembersihan hati dan pikiran melalui dzikir, riyadhah, dan suluk. Hal itu juga diperkuat oleh pernyataan Wahid (1974:29) bahwa watak gerakan tasawuf di negeri ini sedikit sekali mementingkan pengungkapan keindahan cinta abstrak kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih, melainkan hanya mengutamakan pekerjaan ibadat yang dianggap utama (wirid bentuk ganda awrad). Tasawuf di nusantara memberi penekanan pada pembentukan nilai-nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan mementingkan faktor kedalaman rasa (compassion). 

Ajaran tasawuf dalam STWGD merupakan ajaran Islam komprehensif yang menilik dan memusatkan perhatian pada kesadaran diri pemeluknya. Ketuntasan pemahaman dan penghayatan Islam yang berpusat pada kesadaran diri ini akan melahirkan pribadi yang mempunyai budi pekerti yang luhur atau ber-akhlaqul karimah. Pribadi yang berbudi pekerti yang berlandaskan kesadaran diri secara otomatis akan menjadi pribadi sosial yang mempunyai kesadaran sosial yang tinggi yang tecermin melalui sikap sosialnya. Ia menjadi sosok pribadi yang mentransformasikan kesadaran diri (kesalehan diri) menuju kesadaran sosial (kesalehan sosial). Untuk menjadi manusia yang paripurna (Insan Kamil) tersebut diperlukan penahapan-penahapan (maqamat, station). Dalam STWGD dikupas dan dirinci anasir-anasir pembentuk kesadaran diri. Anasir-anasir diri tersebut terefleksikan dalam sikap sosial yang mencerminkan kebudipekertian dan keakhlaqulkarimahan dari sosok yang telah tuntas menahapi (salik) seluruh penahapan.

Atas dasar tersebut, makalah ini membahas ajaran tasawuf dalam STWGD yang akan memerikan dan membaur-buraikan anasir pembentuk pribadi yang berkesadaran diri serta berkontribusi dalam pembentukan pekerti di masyarakat. Dengan ikhtiar pemerian tersebut setidaknya telah ada upaya yang serius untuk menggali khazanah STWGD untuk bangsa yang tengah didera dan dikoyak ’akar kepribadiannya’ yang akhir-akhir ini menunjukkan tanda-tanda yang serius. Untuk itu, petuah Bapak Bangsa sekaligus mantan Presiden Republik Indonesia patut untuk disenandungkan, dihayati, diresapi, dan akhirnya dilakoni untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti yang berpusat pada kesadaran diri.   . 

Objek Penelitian
Objek penelitian berwujud Singiran Tanpa Waton Gus Dur yang direkam pertama kali oleh Pesantren PETA (Pesulukan Thariqah Agung) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ketika Gus Dur memberi sambutan pada acara Haul Akbar Almarhum Hadratusyaikh Mustaqim bin Khusen pada minggu pertama bulan Muharam tahun 2000. Di penghujung sambutannya, beliau mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk mendendangkan STWGD. Selanjutnya, STWGD secara masif disebarkan melalui proses perekaman dan penggandaan yang diprakarsai oleh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Singir ini terdiri dari 16 bait dengan rincian sebagai berikut bait 1 dan 2 serta bait 16 menggunakan sholawatan berbahasa Arab dalam penelitian ini tidak dikaji. Yang dikaji dalam penelitian ini adalah singir yang berbahasa Jawa yang terdiri atas 13 bait yaitu bait 3 s.d.15. 

Metode Penelitian
Dalam penelitian digunakan metode hermeneutik sastra dan kepustakaan. STWGD merupakan objek karya sastra yang digali untuk ditemukan ajaran tasawuf yang terkandung di dalamnya dan kontribusinya dalam pembentukan pekerti masyarakat. Oleh karena itu, metode hermeneutik satra dipilih untuk memahami makna karya sastra dibalik struktur. Pemahaman makna tidak hanya pada simbol, tetapi memandang sastra sebagai teks (Endraswara, 2006:42). Penelitian kepustakaan (Library Research) adalah penelitian yang kegiatannya dilakukan dengan mengumpulkan data dari pelbagai literatur yang berhubungan dengan objek penelitian. Metode kepustakaan digunakan untuk melengkapi metode hermeneutik sastra sehingga hasil tafsiran atas teks diperkuat oleh kepustakaan terkait.

Ajaran Tasawuf dalam STWGD
Dalam dunia tasawuf terdapat istilah seorang penempuh jalan (salikin), Gus Dur sering menyebutnya dengan istilah aspirant. Seorang salik yang menyusuri jalan sufi (the sufi way) melalui penahapan (station, maqamat) penahapan tersebut terdiri atas syariat, thariqat, makrifat, dan hakikat. Dalam STWGD ditemukan dalam bait IV dan VIII

Aja mung ngaji syariat blaka
(Jangan hanya mengaji syariat saja)

kerana mapan seri ngilmune
lagu thorekat lan makrifate
uga hakikat manjing rasane
(Karena telah kokoh penahapan ilmunya
Lagu thorikat dan makrifat
Dan juga hakikat masuk ke dalam rasa)

Syariat dalam STWGD berarti jalan yang bersifat lahiri, hukum fiqh, atau amalan ritual keagamaan yang dapat dipertunjukkan secara demonstratif, seperti salat, haji, zakat, dan amalan yang sejenis. Thorekat atau tarekat, sebagian orang jawa menyebut dengan tirakat berarti laku batin yang bersifat rohani; amalan rohani yang diamalkan yang mengiringi amalan syariat. Jika syariat untuk membangun kedisiplinan hidup, tarekat untuk membangkitkan kesadaran dan kematangan spritual (Chodjim, 2007:228). Makrifat secara leksikal berarti ’mengetahui’, mengetahui makna tauhid pengesaan yang sejati. Mengetahui zat dan sifat-sifat-Nya dengan terperinci, juga status ahwal, peristiwa-peristiwa (Jami, 2003:xxvii). Hakikat merupakan ujung dari semua perjalanan. Di tahap inilah sesorang menemukan kebenaran sejati, The Absolute Reality, Kenyataan mutlak (Chodjim, 2007:244).

Dalam STWGD urutan syariat, thoreqat, makrifat, dan hakikat tidak semata-mata pertimbangan rima singir, tetapi pola urutan yang runtut dan sistematis tentang penahapan dalam ilmu tasawuf. Hal ini diperkuat dengan larik kerana mapan seri ngilmune ’karena telah kokoh penahapan ilmunya’ kata seri berarti urutan yang beruntut, seri I, seri II , dst yang mengandung penahapan secara urut dan sistematis. Jadi, penahapan tasawuf dalam STWGD bermula dari syariat, thareqat, makrifat, dan hakikat. Urutan penahapan ini berbeda dengan penahapan ajaran tasawuf pada umumnya yang mendahulukan hakikat setelah itu baru makrifat, sedangkan pola urutan dalam STWGD adalah makrifat dan hakikat.

Penahapan tersebut bermula dari ’luar’ menuju ’dalam’, dari eksoterik menuju esoteris, dari permukaan menuju ke kedalaman. Seorang penempuh jalan (salik) tidak boleh terjebak pada satu station, apalagi satu station yang paling luar, yaitu syariat. Alasan inilah dalam STWGD pada bait IV melarang umat Islam berhenti hanya pada tahap (maqam) syariat karena hanya mampu melihat hal-hal permukaan dan dangkal dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut. 

Duh bala kanca pria wanita 
Aja mung ngaji syariat blaka 
Gur pinter ndongeng nulis lan maca 
Tembe burine bakal sengsara
(Wahai semua sahabat pria dan wanita
Jangan hanya mengaji syariat saja
Hanya pandai mendongeng menulis dan membaca
Dibelakang hari akan sengsara)

Selain larangan hanya belajar syariat, juga terkandung nilai pencapaian (optimalisasi) dari tahap syariat yaitu gur pinter ndongeng nulis lan maca ’hanya pandai mendongeng menulis dan membaca’ kecakapan mendongeng, menulis, dan membaca merupakan simbolik penahapan syariat yang mempelajari hal yang mendasar sebagaimana anak sekolah dasar belajar mendongeng, menulis, dan membaca. Manakala sang penempuh jalan (salik) berhenti di penahapan syariat, Tembe burine bakal sengsara ’dibelakang hari akan sengsara’. Kesengsaran tersebut bersumber dari kedangkalan pemahaman dan penahapan yang belum tuntas.

Ajaran untuk memahami Islam secara komprehensif juga ditemukan dalam bait VII dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut.

ayo sedulur jo nglalekake
wajibe ngaji sak pranatane
Ngo ngandelake iman tauhide
baguse sangu mulya matine
Ayo saudara jangan melupakan
Kewajiban mengaji dengan seluruh pranatanya
Untuk memperkuat keyakinan ketauhidanya
Sebaiknya bekal (dalam menghadapi) mati dengan mulia

Frasa sak pranatane ’seluruh pranatanya’ mengandung arti keseluruhan penahapan dari syariat sampai hakikat, sedangkan tujuannya memperkuat ketauhidan kepada Allah (iman tauhide). Jami (2003:xliii-xliv) membagi ketauhidan menjadi empat macam, yaitu: 
  • tauhid imani (tauhid berbasis kepercayaan) yakni membenarkan keesaan Allah atas dasar ayat-ayat Al-quran dan hadis-hadis sahih. 
  • tauhid ilmi (tauhid berbasis keilmuan) yakni tauhid yang memanfaatkan basis esoterisme atau yang disebut juga ilmu al-yaqin. 
  • tauhid hali (tauhid berbasis status-spiritual) yakni jenjang tauhid yang atribut Zat Yang Diesakan sudah melekat pada pelakunya.
  • tauhid illahi (tauhid berbasis ketuhanan) yakni jenjang tauhid yang Allah sejak zaman dahulu kala (azal al-azal) telah menauhidkan diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri, bukan dengan penauhidan selain-Nya. Seoarang penempuh jalan (salik) diharapkan memahami, melalui, dan meyakini keempat jenjang tauhid tersebut.



Kesadaran Diri 
Ajaran tasawuf selalu mengolah ’entitas diri’ dan fokus pada pembinaan kesadaran diri. Tidak akan ada perubahan dalam masyarakat, kecuali dimulai dari diri-individu dalam masyarakat tersebut. Untuk itu, fokus kedirian menjadi tema sentral yang dibahas dan dikupas dalam ajaran tasawuf. STWGD selalu berorientasi, berpusat dan bertumpu pada pengolahan ’diri’ (Self), pada kesadaran diri, pada kesalehan diri pribadi. STWGD ini mengajarkan untuk menelisik ke dalam, meniti kedalam diri, memperhatikan bentuk-bentuk kekafiran yang melekat pada dirinya hal itu tercermin dalam kafire dewe gak digatekke ’kafirnya sendiri tidak diperhatikan’. Frasa kafire dewe memberi penekanan pada pentingnya kesadaran diri, bercermin pada diri sendiri untuk memfokuskan pada ’rumah tangga diri’, maka akan tersibak kekotoran dan kenajisan yang masih melekat dalam beranda hati dan pikiran sebagaimana larik yen iseh kotor ati akale ’kalau masih kotor hati dan pikirannya’. Ditemukan pada bait V sebagai berikut.

akeh kang apal Quran Hadise
seneng ngafirke marang liyane
kafire dewe gak digatekke
yen iseh kotor ati akale
(Banyak yang hafal Quran dan Hadist
Senang mengkafirkan orang lain
Kafirnya sendiri tidak diperhatikan
Kalau masih kotor hati dan pikirannya)

Pengkafiran atas orang lain tersebut terjadi karena masih dangkalnya pemahaman, masih terjebak pada hal-hal yang berkaitan dengan eksoteris (outside). Ia belum bergerak menuju esoteris (inside). Pentingnya kesalehan diri yang bertumpu pada kesadaran diri (esoteris) ini juga ditemukan dalam bait VIII dengan kutipan sebagai berikut.

Kang aran saleh bagus atine
Yang disebut orang saleh yaitu orang yang baik hatinya’

Definisi tentang kesalehan adalah seseorang yang mempunyai kebaikan hati. Frasa Bagus atine ’baik hatinya’ menandakan bahwa standar ukuran kesalehan terletak pada kebaikan hati sesorang. Hal ini berarti kesalehan berkait erat dengan ihwal laku batiniah yang bersifat esoteris. Esoteris berarti kesalehan Islam yang dipahami melebihi simbol-simbolnya. Kesalehan yang dipahami dalam arti melebihi segi lahiriyah (syariat), tetapi memasuki segi yang lebih mendalam, segi realitas tinggi (high reality) yang bersifat batin (Rachman dalam Chodjim, 2008:vi). Standar ukuran kesalehan tidak bisa hanya diukur atas keaktifan mengikuti ritual keagamaan saja, misalnya keaktifan salat berjamaah, penunaian ibadah haji berkali-kali sebagai ekspresi wisata religi dan ritual ibadah yang terindra lainya, tetapi melebihi ukuran-ukuran standar ritual keagamaan. Ukuran kesalehan diri tecermin melalui perilaku sehari-harinya yang mencerminkan kebaikan budi dan hatinya. Ukuran kesalehan berkait erat dengan pekertinya karena pekerti merefleksikan kebaikan hati. Dalam STWGD dibahas anasir-anasir atau unsur-unsur pembentuk kesadaran diri. Dengan rincian pembahasan sebagai berikut.

Kebersihan hati dan pikiran
Dalam ajaran tasawuf terdapat konsep pembersihan sebelum memasuki penahapan selanjutnya. Penahapan itu berupa pembersihan hati dan pikiran, penahapan ini juga disebut juga tahap taubat, kembali ke fitrah (Chodjim, 2006:52). Dalam STWGD terdapat ajaran untuk selalu menjaga kebersihan hati dan pikiran yang terdapat dalam bait V dan VI dengan kutipan sebagai berikut.

yen iseh kotor ati akale
(Kalau masih kotor hati dan pikirannya)

mula atine peteng lan nistha
(Maka hatinya gelap dan nista)

Dalam ajaran tasawuf kebersihan hati dan pikiran menjadi fokus utama. Kata ’akal’ menurut Mustofa (2009:88) terdiri atas pikiran dan perasaan yang berperan sebagai sumber getaran atau transmitter yang luar biasa besar sekaligus receiver atau penerima getaran dengan kekuatan radar yang peka. Pikiran dan perasaan akan berfungsi menerima getaran ketuhanan (pesan-pesan lembut Tuhan) kalau hati dan pikiranya bersih. Dalam ajaran tasawuf seorang salik akan menerima wirid untuk membersihkan ’kerak hati’ dan ’sampah pikiran’ melalui beragam tirakat. Pikiran dan hati yang bersih akan senantiasa menerima dan memantulkan nilai-nilai kebaikan. Sebaliknya, hati dan pikiran yang kotor dan ternoda tidak mampu merefleksikan nilai-nilai keb`ikan. Hal tersebut dalam STWGD disebut dengan ”atine peteng” hati gelap. Hati yang gelap oleh debu dosa tidak mampu menerima dan memantulkan nilai-nil`i kebaikan.

Zuhud terhadap Dunia
Secara etimologi, kata al-Zuhd adalah masdar dari kata zahada atau zahida,   Zahada fi al-syai'I au'anhu berarti raghiba 'anhu artinya meniggalkan dan tidak menyukai. Zahada fi al-dunya artinya menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk beribadah. Orang yang melakukan zuhd disebut al-Zahid maksudnya orang yang meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih akhirat (A.W. Munawwar, 1984: 626-627)

Chodjim (2006:152) mendefinisikan zuhud berdasarkan pemahaman surat Yusuf [12]:20, zuhud mempunyai makna asal dari zahid ialah orang yang tidak tertarik hatinya terhadap sesuatu. Abu Hasan Al-Syadzili (dalam Chodjim, 2006:152) mendefinisikan zuhud yaitu upaya untuk menggunakan hal-ihwal kedunian sekadar untuk memenuhi hajat hidupnya.

Dalam STWGD terdapat ajaran berlaku zuhud terhadap dunia yang ditemukan dalam bait VI dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut.

gampang kabujuk nafsu angkara
ing pepahese gebyare donya
(Mudah terbujuk nafsu angkara
Dalam gemerlapnya keindahan dunia)

Wahid (1974:17) menyatakan bahwa ajaran Islam di Indonesia secara kultural memberi penekanan pada asketisme (bahasa Arab Al-zuhd, seringkali dinamai ”kealiman” di negeri ini) yang mewarnai kehidupan agama Islam di kepulauan nusantara, tidak sebagaimana dinegeri-negeri Arab sendiri sepanjang sejarahnya. Ajaran zuhud dalam STWGD tercermin dari frasa pepahese gemerlape donya ’gemerlapnya keindahan dunia’. Bujuk rayu gemerlapnya keindahan dunia adalah akibat dari ketidakbersihan hati dan pikiran, maka ia mudah terbujuk dan berpaling untuk meraih gemerlapnya dunia yang semu. Untuk membentengi diri dari jebakan gemerlapnya keindahan dunia STWGD mengajarkan penunaian laku zuhud dalam hidup sehari-hari.

Kesabaran dan keikhlasan
Dalam STWGD terdapat ajaran untuk senantiasa menjalani kesabaran dan keikhlasan ditengah himpitan dan tekanan hidup yang mendera. Tekanan hidup berupa kekurangan ekonomi, kebutuhan hidup yang tidak terjangkau, dalam STWGD diajarkan pentingnya laku sabar dan ikhlas dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut.

sabar narima najan pas-pasan
(Sabar dan menerima meskipun (hidupnya) pas-pasan)


Kata narima secara leksikal berarti ’menerima’ dalam artian luas tidak hanya sabar dan menyabar-nyabarkan diri, tetapi ada keikhlasan untuk menerima keadaan hidup. Meskipun sumber hidup (ekonomi; penghasilan) kurang dan pas-pasan. Frasa sabar narima mempunyai makna tersirat ajaran untuk menjadi manusia tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Di dalam sifat sabar dan ikhlas terdapat sikap hidup berani, kuat hati, dan bersemangat (Chodjim, 2006:95). Sabar narima tidak berarti menerima kekalahan, tetapi adanya daya juang, daya tahan untuk berbuat dan bertindak, tetap tekun dan ulet untuk mencari ridho-Nya (Chodjim,2006:108)

Keridhoan menerima keputusan Allah
Dalam STWGD terdapat ajaran untuk menerima keputusan (takdir) dari Allah. Hal ini dalam tasawuf lebih dikenal dengan istilah taslim adalah berserah diri secara total; penyerahan diri secara total, menyadari sepenuhnya kelemahan dan ketakberdayaan diri. Daya dan kekuatan hanya milik Allah semata. Ajaran ini tampak dalam kutipan sebagai berikut.

kabeh tinakdir saking Pangeran
(Semua menjadi ketetapan dari Tuhan)          

Pemahaman taslim ini akan bisa diterima dan dipahami apabila kebersihan hati dan pikiran, zuhud, sabar dan ikhlas telah dilakoni dan terlampaui. Selama masih ada debu kalbu, sikap menuntut terhadap Allah pasti tetap ada (Chodjim, 2010:255). Alasan tersebut menjadi dasar utama ajaran menerima ketetapan Allah (taslim) diletakkan paling akhir setelah ajaran-ajaran yang lain ditunaikan.

Anasir-anasir diri tersebut dapat dicapai dengan sempurna apabila disertai dengan laku tirakat. Tirakat akan membentuk pribadi yang berbudi pekerti dan berakhlaqul karimah. Dalam hal ini, Wahid (1974:74) menyatakan bahwa bertirakat (tirakat) adalah usaha untuk mencapai keluhuran budi dan jiwa. Secara implisit, pernyataan ini menegaskan bahwa keluhuran budi dan jiwa tidak akan tercapai, kecuali dengan tirakat (mesu budi). Dalam STWGD, ajaran untuk bertirakat terdapat dalam bait XI dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut.

kelawan Allah kang Maha Suci
kudu rangkulan rina lan wengi
ditirakati diriyadhahi
zikir lan suluk jo nganti lali

Dengan Allah yang maha suci
Harus berdekapan siang dan malam
Dengan tirakat Dilatih terus menerus
zikir dan suluk jangan pernah lupa

                  Kata riyadhah berasal dari bahasa Arab yang berarti excercise atau latihan. Pangkal katanya yaitu ’RiYaDHaH’. Kata ini belum mengalami proses adaptasi langsung yang diadopsi dari bahasa Arab. Padanan dalam bahasa Jawa yaitu kata tirakat yang mempunyai pangkal kata thariqat atau THaRYQaT yang secara leksikal berarti ’jalan’ (Widodo, 2011). Kata zikir diserap dari bahasa Arab yang merupakan leksem simpleks dipungut dari bahasa modelnya ZiKR (Ruskhan, 2007:35) yang mempunyai arti leksikal ’mengingat’.

Kata suluk berasal dari bahasa arab dengan kata pangkalnya salaka à yasluku à sulukan. Secara leksikal bermakna ‘berjalan’. Dalam KBBI (2002:354) suluk diartikan:


  1. jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf; tarekat; mistik: 
  2. pengasingan diri; khalwat
  3. nyanyian (tembang) dalang yag dilakukan ketika akan memulai suatu adegan (babak) dalam pertunjukan wayang.
Dari ketiga arti suluk yang sesuai dengan konteks singiran STWGD yaitu arti yang pertama (1) jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf; tarekat; mistik (Widodo, 2011).

Tirakat, riyadhah, zikir, suluk merupakan istilah laku tirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah agar senantiasa berpaut siang dan malam rangkulan rina wengine. Biasanya dalam pondok pesulukan (zawiyah) diajarkan beragam tirakat, amalan, ijazahan, tawajuhan, dan pelbagai tirakat lainya. Pendek kata, pengetahuan spiritualitas (ketuhanan) dan hakikat spiritualitas hanya bisa dijembatani melalui jalan tirakat.

Kesadaran sosial
Dalam STWGD tidak hanya mengajarkan kesalehan diri yang bersifat personal, tetapi juga mengajarkan kesalehan sosial. Kesadaran sosial akan tumbuh bila ia telah tuntas dalam kesadaran diri. Kesadaran diri sebagai cikal bakal tumbuh dan berkembangnya sikap sosial. Seorang penempuh jalan tasawuf (salik) tidak hanya berorientasi pada realisasi diri saja, tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan dalam spektrum yang lebih luas yakni masyarakat. Nilai kemanusiaan bisa dipahami ketika semua perilaku lahir dan batinnya diorientasikan pada Allah dan pada waktu yang sama juga membawa dampak konkret terhadap upaya meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan. Pendeknya, manusia tidak bisa dipahami tanpa keterkaitannya dengan Tuhan dan keterkaitanya dengan manusia lain dalam kehidupan sosial (Hidayat, 2009:32).

Dalam STWGD terdapat ajaran untuk mentransformasikan kesadaran diri menuju kesadaran sosial banyak ditemukan. Hal ini sebagai tanda bahwa anasir-anasir kesalehan diri telah terlaksana ketika tecermin melalui pekerti dalam masyarakat. Teori cermin Al-Ghazali (dalam Hidayat, 2009:35) aktivitas kemanusiaan yang tidak diterangi cahaya keilahian bagaikan orang berjalan di lorong yang gelap. Sebaliknya, orang yang sekedar percaya kepada Tuhan tanpa menumbuhkan sifat-sifat agung Tuhan di dalam dirinya bagaikan Iblis.

Untuk itu dibawah ini akan diuraikan kontribusi ajaran tasawuf dalam pembentukan pekerti di masyarakat. Kesalehan diri tersebut tecermin melalui sikap sosial sebagai berikut.

1. Toleransi antarsesama
Seseorang yang telah memahami dan melakoni ajaran tasawuf pastilah ia mempunyai sikap sosial menghargai antarsesama meskipun beda keyakinan, beda pemahaman, beda perspektif, beda aqidah sekalipun ia masih tetap mentolerisasi dan menghargai. Bagi pemahaman seorang penempuh jalan (salik) selalu teringat sabda nabi Muhammad Saw: ” barangsiapa yang mengafirkan saudara yang beragama Islam, justru ialah yang kafir ” (Man Kaffara akhahu musliman fahuwa kafirun) (Wahid, 2003:287). Seorang yang telah memahami ajaran tasawuf selalu berfokus pada kekafiran yang melekat dalam dirinya, oleh sebab itu ia selalu menghargai antarsesama. Toleransi antarsesama tersebut tecermin dalam STWGD pada bait V dengan kutipan sebagai berikut.

akeh kang apal Quran Hadise
seneng ngafirke marang liyane
kafire dewe gak digatekke
yen iseh kotor ati akale

(Banyak yang hafal Quran dan Hadist
Senang mengkafirkan orang lain
Kafirnya sendiri tidak dhperhatikan
Kalau masih kotor hati dan pikirannya)

2. Rukun terhadap sesama
Seseorang yang merasakan kehadiran Allah di setiap waktu, memancarkan aura kesejukan dan kedamaian. Hal itu tercermin melalui sikap sosial yang mengedepankan kerukunan daripada perselisihan. Kerukunan terhadap sesama merupakan manifestasi dari pancaran kedamaian dalam hati. Perselisihan adalah cerminan dari kesemrawutan hati. Untuk itu, pribadi yang tersinari dengan ajaran tasawuf senantiasa menjaga kerukunan kepada teman, saudara, handai tolan, tetangga, sahabat karib, dan seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali. Rukun terhadap sesama juga disunahkan oleh nabi Muhammad. Dalam STWGD, sikap sosial rukun terhadap sesama ditemukan dalam bait XIII dengan kutipan lengkapnya sebagai berikut.

kelawan kanca dulur lan tangga
kang pada rukun aja daksiya
iku sunahe Rasul kang mulya
nabi Muhammad panutan kita

Dengan teman, saudara, dan tetangga
Yang rukun jangan bemusuhan
Itu sunah rasul yang mulia
Nabi Muhammad panutan kita

Larangan iri hati terhadap kekayaan tangga
Tetangga merupakan komunitas paling dekat setelah institusi keluarga. Ia menjadi saudara paling dekat keberadaanya. Keharmonisan dan kerukunan terhadap tetangga mutlak diperlukan karena sebagai modal dasar sistem sosial. Perselisihan dalam masyarakat bermula dari perselisihan seseorang dengan tetangganya. Akar perselisihan tersebur berakar dari sifat iri hati terhadap kekayaan tetangga. Seorang penempuh jalan tasawuf senantiasa menjaga kebersihan hati dan pikirannya, tercemarnya hati salah satunya dari limbah iri hati. Dalam STWGD ada larangan melekatnya sifat iri hati terhadap tetangga. Hal tersebut dalam bait VI larik 23 dengan kutipan sebagai berikut.

iri lan meri sugihe tangga
(Iri hati terhadap kekayaan tetangga)

Munculnya sifat iri hati terhadap kekayaan tetangga menandakan seorang tersebut belum tuntas dalam pembersihan hati pikiran dan laku zuhud. Untuk itu, seseorang yang telah tersinari oleh kebersihan hati dan praktik zuhud mewujud sebagai sosok perekat dan penjaga nilai keharmonisan dan kerukunan di masyarakat.

Memuliakan Sesama
Seseorang yang telah diterangi cahaya kesufian standar kemuliaan seseorang bukan perkakas yang tampak (performance), melainkan keluhuran budi dan ketaqwaan seseorang. Karena cara pandang ini, ia selalu memuliakan sesama meskipun ia dari strata bawah dan rendah segi lahirnya misalnya tukang sapu, pemulung, orang cacat (difable), pelacur, pezina, dan gelar kenistaan yang disandang manusia lainnya. Ia memuliakan semuanya. Baginya kemuliaan derajat terletak pada derajat ketaqwaan; derajat kedekatan hamba kepada khaliqnya. Karena hal ini tidak bisa distandarkan; tidak dapat diukur melalui identitas yang tampak dan melekat, memuliakan sesama adalah pilihan bijak. Derajat kemuliaan dan ketaqwaan seseorang hanya Allahlah yang tahu. Ajaran memulikan sesama dalam STWGD tecermin dalam bait XIV dengan kutipan sebagai berikut.

Allah kang bakal ngangkat derajate
senajan asor tata dhahire
ananging mulya maqam derajate

Allah yang akan mengangkat derajatnya
Meskipun rendah tata lahirnya
Tetapi mulia kedudukannya

Insan Kamil
Manunggalnya kesalehan diri dan kesalehan sosial merupakan terwujudnya sosok paripurna yaitu Insan Kamil. Insan Kamil secara leksikal berarti manusia yang sempurna, manusia yang mempunyai budi pekerti luhur, mempunyai akhlaqul karimah (pekerti mulia). Tugas kenabian Kanjeng Nabi Muhammad pun untuk membangkitkan makarim al-akhlaq, budi pekerti mulia, dalam bahasa Inggris disebut noble characteristics atau noble traits of character (Chodjim, 2007:19). Kemulian dan keluhuran pekerti merupakan capaian ‘terluar’ yang berangkat dari yang ’terdalam’. 

Kepurnaan dan kesempurnaan dalam pencapaian penahapan dalam hidup merupakan pencapain prestasi spiritualitas. seseorang yang telah mencapai puncak pendakian spiritual, telah mempunyai bekal untuk menghadap Sang Khaliq. Perjalanan hidupnya telah menemukan Jalan kembali pada-Nya. Dalam STWGD pentingnya bekal menghadap Allah tercermin dalam bait VII larik 28 dengan kutipan sebagai berikut baguse sangu mulya matine ’sebaiknya bekal (dalam menghadapi) mati dengan mulia’. Secara implisit, ajaran tasawuf mengajarkan pentingnya ’bekal-bekal’ untuk kembali kepada-Nya. Dalam penutup, STWGD ditutup dengan penegasan ketika jasad dan ruh terpisah atau meninggal dunia ia mengetahui jalan menghadap Sang Khaliq, perjalanan ruh tidak tersesat karena ia telah terbiasa meniti jalan tersebut. Tidak heran dalam mistik Jawa terdapat ungkapan mati sakjeroning urip, urip sakjeroning mati ’mati di dalam hidup, hidup di dalam mati ’ yang mencerminkan esensi hidup dan mati dalam derap langkah dan helaan napas yang beriring. 

Pencapaian seseorang terhadap hakikat kehidupan dari asal hingga akhir seperti itu berarti bahwa Ia telah mengetahui tempat surga yang sesungguhnya. Cerminan sosok pribadi tersebut pastilah memendarkan nilai-nilai ketuhanan yang dipancarkan dalam nilai-nilai luhur di masyarakat. Penuntasan pencapaian tersebut terdapat dalam STWGD bait XV

lamun palastra ing pungkasane
ora kesasar ruh lan sukmane
den gadang Allah suwarga manggone
utuh mayite ugo ulese

Ketika ajal telah tiba pada akhir hayatnya
Tidak tersesat jiwanya
Dinanti-nanti Allah di surga tempatnya
Masih utuh jasad dan kain kafannya

Larik utuh mayite ugo ulese ’masih utuh jasad dan kain kafannya’ merupakan keistimewaan atau karamah yang diberikan Allah kepada hamba-hambanya yang telah menemukan jalan kembali kepada-Nya. Kekaramahan tersebut tidak dapat diminta dan dicita-citakan. Ia bukan wilayah pengihtiaran (reach out), melainkan wilayah pinaringan (given). Secara hakiki STWGD mengajarkan hidup dan kehidupan serta menjalani hidup dengan peta yang digariskan-Nya.

Simpulan
Dari pembahasan dan pemaparan di atas, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

Dalam STWGD terdapat ajaran tasawuf dengan empat penahapan yaitu syariat, thareqat, ma’rifat dan hakikat.
Ajaran tasawuf berfokus pada pembenahan kesadaran diri yang mempunyai empat anasir 
(1) kebersihan hati dan pikiran, 
(2) zuhud terhadap dunia, 
(3) kesabaran dan keikhlasan, dan 
(4) menerima ketetapan Allah.

Kesadaran diri yang telah mencapai kematangan tecermin dalam sikap sosial sebagai berikut 
(1) toleransi antarsesama, 
(2) rukun terhadap sesama, 
(3) larangan iri hati terhadap kekayaan tetangga, dan 
(4) memuliakan sesama.

Manunggalnya perwujudan kesadaran diri dan kesalehan soshal lahirlah sosok berbudi pekerti atau sosok insan kamil yang mempunyai kesalehan diri dan kesalehan sosial.
Daftar PustakaAlwi, dkk.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:Balai Pustaka.A.W., Munawir.1984. Al-Munawwir: Kamus Arab- Indonesia. Yogyakarta: Pondok Pesantren al-Munawwir.Burhani, Ahmad Najib.2002. Tarekat Tanpa Tarekat. Jakarta: Serambi.Braginsky.1998. Yang Indah Berfaedah dan Kamal, Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS.Chasanah, Ida Nurul.2006.”Tradisi Sufisme dalam Karya-Karya K.H.Mustofa Bisri” dalam majalah Basis Edisi Sufisme.No 03-04, tahun ke-55, Maret-April.Chodjim, Achmad.2007. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga. Jakarta: Serambi.______________.2008. Syekh Siti Jenar Makna Kematian. Jakarta: Serambi.______________.2006. Rahasia Sepuluh Malam. Jakarta : Serambi.______________.2007. Syekh Siti Jenar Makrifat dan Makna Kehidupan. Jakarta: Serambi.Endraswara, Suwardi.2006.Metodologi Penelitian Sastra.Yogyakarta:Pustaka Widyatama.Hidayat, Komaruddin.2009. Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Jakarta: Hikmah.Jami, Mawlana ’Abd ar-Rahman.2003.Pancaran Ilahi Kaum Sufi (terjemahan oleh Kamran As’ad Irsyadi).Yogyakarta: Pustaka Sufi.Kadarisman, A. Effendi.2010. Mengurai Bahasa Menyibak Budaya. Malang:UIN-Maliki Press.Kusnadi.2006. ”Seni Singiran dalam Ritual Tahlilan pada Masyarakat Islam Tradisional Jawa” dalam Jurnal Imaji Vol. 4, No 2, Agustus ’06. FBS UNY.Mustofa, Agus.2009.Membongkar Tiga Rahasia.Surabaya:Padma Press.Ruskhan, Abdul Gaffar.2007.Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia; Kajian tentang Pemungutan Bahasa. Jakarta: GrasindoSalam, Aprinus.2004.Oposisi Sastra Sufi.Yogyakarta:LkisWahid, Abdurahman.1974.Bunga Rampai Pesantren: Kumpulan Karya Tulis Abdurahman Wahid. Jakarta:CV Dharma Bhakti.________________.2003. ”Ulil Abshar Abdalla dengan Liberalismenya” dalam Abdalla, Ulil Abshar, dkk. Islam Liberal dan Fundamental:Sebuah Pertarungan Wacana.Yogyakarta:Elsaq press.Widodo, Wahyu.2011.”Sinonimi Berepetisi Makna dalam Singiran Tanpa Waton Gusdur” dalam Sumarlam (Ed). Pelangi Nusantara: Kajian Variasi Bahasa. (dalam proses penerbitan)W.M., Abdul Hadi. 2001.Tasawuf   Yang   Tertindas,   Kajian Hermeneutik         Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.

Ajaran Tasawuf dalam Singiran Tanpa Waton Gus Dur dan Kontribusinya dalam Pembentukan Pekerti Masyarakat
ditulis oleh: Wahyu Widodo (post by ki-demang.com)
Universitas Brawijaya
Fakultas Ilmu Budaya
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Penambahan dan pengurangan tulisan maupun tanda baca dalam posting ini tanpa bermaksud  mengurangi nilai Makalah asli, semoga bermanfaat bagi pembaca semua. best regards ilalangkota