Rabu, Desember 08, 2010

BUNGA RAMPAI MUTIARA HIKMAH IMAM ALI R.A.

Bergaullah dengan cara yang mengundang ratap-tangis orang bila kau meninggal dunia, dan tariklah simpati mereka selama kau hidup bersama mereka.

Bila kau beroleh kemenangan atas musuhmu, jadikanlah pengampunanmu atas dirinya sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan itu

Sebodoh-bodoh manusia ialah yang tidak mampu beroleh kawan-kawan untuk dirinya, namun yang lebih bodoh lagi ialah yang menyebabkan perginya mereka yang telah diperolehnya.

Orang yang tertinggal disebabkan kurangnya amalnya, takkan dapat menyusul dengan kemuliaan nasabnya.

Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila kaulihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu, sementara kau terus menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.

Bila keadaanmu makin mundur sedangkan maut terus datang mengejar dibelakangmu, alangkah cepatnya pertemuan akan terjadi.

Orang yang berbuat kebaikan adalah lebih baik darpada kebaikan itu sendiri, dan yang berbuat kejahatan adalah lebih jahat daripada kejahatan itu sendiri.

Wahai anakku, jangan sekali-kali memilih seorang bodoh sebagai kawan karibmu, sebab ia hanya akan mendatangkan kesulitan bagimu sementara ia justru ingin menolongmu. Jangan kaujadikan seorang bakhil sebagai temanmu, sebab ia akan menjauhkan diri darimu justru pada saat kau sangat membutuhkannya. Jangan berkawan dengan orang yang berbudi rendah, sebab ia akan “menjualmu” dengan semurah harga. Dan jangan berteman dengan seorang pendusta, sebab ia sama saja dengan fatamorgana, mendekatkan bagimu yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Lidah orang berakal berada dibelakang hatinya, dan hati orang yang bodoh berada dibelakang lidahnya.

(Kepada seorang sahabat yang sedang menderita sakit, Imam Ali berkata): Semoga Allah menjadikan sakit yang kau keluhkan itu sebagai penyebab gugurnya dosa-dosamu. Kendatipun sesungguhnya tidak ada pahala disediakan bagi penderita karena sakit, namun hal itu dapat menggugurkan dosa-dosa seperti gugurnya daun-daun kering dari pohon. Adapun pahala-pahala hanyalah disediakan bagi kebaikan ucapan lidah atau perbuatan tangan dan kaki. Dan Allah SWT memasukkan siapa yang dikehedaki-Nya ke dalam surga dengan adanya niat yang tulus dan hati yang bersih.

ketika disebut nama Khabbab bin Al-Aratt- seorang sahabat Nabi saw, yang telah meninggal – Imam ali r.a. berkata:”Semoga Allah merahmati Khabbab!, ia memeluk agama islam dengan sepenuh hati, berhijrah semata-mata karena keta’atan, mencukupkan diri dengan apa adanya, senantiasa ridha akan Allah dan hidup sebagai mujahid.”

Berbahagialah siapa yang selalu ingat akan hari akhir, beramal untuk menghadapi Hari perhitungan dan merasa puas dengan ala kadarnya sementara ia ridha sepenuhnya dengan pemberian Allah.

Suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah, daripada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu.

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya. Ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya. Keberaniannya sesuai dengan kadar penolakkannya terhadap perbuatan kejahatan. Dan kesucian hati nurani-nya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya.

Barang siapa berlebih-lebihan dalam berangan-angan (tentang ampunan Allah) dikhawatirkan akan banyak berperilaku buruk.

Jadilah seorang dermawan, tetapi jangan menjadi pemboros. Jadilah seorang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi seorang yang kikir.

Semulia-mulia kekayaan milik pribadi ialah meninggalkan banyak keinginan.

Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar ialah dengan menyimpan baik-baik segala rahasia.

Hati manusia bagaikan binatang liar. Barangsiapa bersungguh-sungguh berupaya menjinakkannya, ia pasti akan mendekat juga.

Semua cacat dirimu tetap tertutup dan tersembunyi selama nasib mujur masih bersamamu.

Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum.

Kedermawanan yang sebenarnya ialah yang dilakukan secara spontan. Adapun jika didahului oleh permintaan, maka yang demikian itu hanyalah penutup rasa malu atau upaya penyelamatan diri dari celaan dan perasaan berdosa.

Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu lebih baik daripada musyawarah.

Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingini, dan sabar dari menahan diri dari sesuatu yang kau ingini.

Kekayaan adalah “tanah air” meskipun seseorang berada di negeri yang asing, dan kemiskinan adalah “keterasingan” sekalipun seseorang berada di negeri sendiri.

Qana’ah (perasaan puas dengan apa saja yang ada di tangan) adalah kekayaan yang takkan ada habisnya.

Harta adalah bahan utama pelampiasan hawa nafsu.

Orang yang membuatmu berhati-hati, sama seperti yang membawakan berita baik untukmu.

Lidah itu laksana seekor binatang buas, bila dilepaskan pasti membunuh.

Kehilangan orang-orang yang sangat dicintai adalah sesuatu bentuk keterasingan.

Sumber:
MUTIARA NAHJUL BALAGHAH (wacana dan surat-surat Imam Ali R.A.).
Cetakan pertama, rajab 1410/ februari 1990. penerbit Mizan.
Penerjemah & penyunting: Muhammad Al-Baqir.
Hal, 121 – 124
Posted by: http://carihikmah.wordpress.com